Lagi-lagi aku akan bertemu dengan teman-teman lama sewaktu SMA. Kami juga mengadakan janji untuk bertemu di sebuah mal dekat kampusku. Jika bertemu, hal yang dilakukan tidak sekadar ngobrol-ngobrol biasa. Selain membangga-banggakan kampus dan kuliah, ada saja yang bertanya ”siapa pacarmu sekarang?”. Selanjutnya satu-satu dari mereka bercerita dan kembali membangga-banggakan pacar mereka. Lah, aku? Sedikit bikin iri. Namun, huhhh..., no woman no cry.... no money, I will cry… Hahaha..,dasar mata duitan!
Aku menunggu sendirian, duduk-duduk di depan supermarket di dalam mal. Kami sepakat untuk bertemu di sini. Orang-orang hilir mudik di depanku. Aku melongo. Kadang-kadang menatap kosong cewek-cewek yang lewat di depanku. Ada juga anak-anak bersama ayah ibunya yang mengundang perhatianku, mendambakan keluarga yang bahagia, punya anak, jalan-jalan bersama. Indahnya, pikirku. Wah, pikiranku sudah kemana-mana! Melamun! Aku sadarkan diriku dengan memutar-mutar kepalaku.
Tiba-tiba sosok gadis tinggi mengejutkanku. Teman lama di SMA, teman bercanda, teman sebangku selama dua tahun di SMA. Dia tersenyum-senyum dan tampak menertawakanku.
”Hai, Suwito! Apa kabar? Tambah kurus kau, Wi?” sapanya sambil menepuk keras bahuku.
Komentar yang paling aku benci. Dia bilang aku tambah kurus. Aku paling risih jika dikomentari tambah kurus. Kesannya, hidupku tak terurus dan tertekan selama tinggal di Jakarta sampai-sampai badan kurus.
Aku berdiri. ”Yeaahhh, daripada dirimu tambah jelek!” balasku sambil tersenyum balik. Wajahnya manyun.
”Kau nih,Wi, jahat! Aku bawa hadiah nih buat kau! Baik kan diriku?”
”Apa?”
”Taraaaaaaaaa...,”serunya seolah-olah ingin memberikan kejutan.
Wanita berambut panjang lurus terurai berdiri di belakangku. Cantik... Dia tersenyum. Senyumannya membuat jantungku seolah berhenti berdetak.
”Hai,To!” sapanya.
Kertas yang sudah lama aku gumpal dibuka kembali. Dia lembaran hidup yang pernah aku tulis di hatiku. Kini dia datang kembali. Kini kami bertemu lagi. Aku mungkin masih punya banyak harapan padanya. Namun, harapan itu sudah aku gumpal dan sudah aku singkirkan dari catatan hidupku. Mengapa sekarang seolah ingin aku buka kembali?
Belum sempat aku membalas sapaannya dan membalas senyum semanis senyumanya, seorang laki-laki berparas tegap dan tinggi menghampirinya. Dadanya lapang, dan wajahnya lumayan tampan, setidaknya lebih tampan sedikit daripada diriku. Lelaki itu menggandeng si kertas yang baru saja aku buka. Lalu, dibawanya pergi meninggalkanku sambil tersenyum sinis.
Temanku yang katanya memberikan hadiah untukku tertawa terbahak-bahak. Dia seolah menertawakanku dan merasa puas telah melakukan itu. Aku kesal dan sangat kesal.
”Monyeeeetttttttt!!!!!!!” aku berteriak sekuat tenaga meluapkan emosiku. Tiba-tiba aku berada di atas ranjang kamarku. Hah..., mimpi! Seperti penggalan sinetron saja! Untung saja, teman sekamarku tidak ada di ranjang sebelahku. Betapa malunya jika dia terbangun gara-gara mendengar teriakan monyet dari mulutku.
Gumpalah kertas, tetaplah gumpalan kertas, tak seindah kertas-kertas rapi yang putih bersih yang ada di tanganku. Kertas dalam lembaran hidupku jauh lebih indah daripada gumpalan yang sudah tak karuan walaupun masih kosong menanti entah siapa yang akan mengisinya. Yang pasti, harus diisi dengan indah, seindah mungkin dan tak ada kecewa di sana, tetapi nanti. Saat waktu dan Tuhan sudah menghendaki. Aku sabar saja menanti.
Post by: Suwito
Minggu, 08 November 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Analoginya keren.
BalasHapusGumpalan kertas di masa lalu....
=)