Selasa, 10 November 2009

Kupu-Kupu

Telur, sosok yang rentan, mudah pecah, dan harus dijaga. Begitulah diriku pada awalnya, dilahirkan tanpa sehelai pakaian pun, langit menjadi atapku dan bumi menjadi selimutku. Pertama kubuka mata menatap dunia dengan penuh keheranan dan ketakjuban. Aku hanyalah seekor ulat bulu yang dilahirkan tanpa ada yang memperhatikan. Nyawaku seakan tak berharga di mata keganasan hutan . Aku berjalan tertatih – tatih menyusuri hutan yang lebat ini. Harapan dan semangatku untuk hidup semakin menipis. Ku mulai berpikir, apakah aku dilahirkan hanyalah untuk menyusuri hutan yang penuh dengan kekejaman dan kehampaan ini. Kesendirian mulai menghantuiku seolah aku tak kuasa melepaskan diri darinya. Deras hujan dan angin mulai bertiup. Bertiup seakan tiada hentinya, menerjang hati dan jiwa ini. Di tengah jeritan hatiku, Engkau muncul sebagai sosok yang lembut dan tegas. Tak peduli berapa kali kujatuh, Engkau selalu menopangku dan mengangkatku. Engkau mengajariku bagaimana berjalan dengan benar, bagaimana bertahan di hutan yang penuh dengan kejahatan dan tipu muslihat ini. Ketika tiada seorang pun yang menjadi tempat curhatku, Engkau selalu disisiku mendengarkan tanpa berkeluh kesah sedikit pun. Namun masih saja kusakiti hati-Mu dengan sikapku yang acuh tak acuh terhadapmu. Berbagai nasehat-Mu padaku lewat begitu saja tanpa kuhiraukan.

Waktu terus berlalu, kini tubuhku diselimuti kerangka keras. Kepompong, itulah sebutanku. Jangankan berjalan, bergerak saja tidak bisa kulakukan. Saat ini merupakan saat yang paling menyedihkan dalam hidupku. Teman – temanku yang dulu sering bermain denganku meninggalkanku begitu saja. Tak cukupkah bagiku ketika menjadi ulat, kalian manfaatkan dan permainkan?!Dalam tangis dan dukaku, kumendengar suara-Mu. Tak pernah kusangka, Engkau masih saja disisiku, membisikkan semangat padaku. Dengan kesabaran dan ketulusan-Mu, Engkau menungguku keluar dari kerangka keras ini. Hatiku terharu oleh kebaikan – Mu dan jiwaku pun bangkit.

Kebosanan dan keputusasaan datang menghampiriku, namun Engkau yang menjadi penghiburan dan kekuatanku. Kali ini tak berani lagi kulanggar nasehat-Mu karena kutahu itu semua demi kebaikanku. Waktu berjalan laksana aliran sungai dan aku masih tetap duduk diam dalam kerangka keras yang menyiksaku ini. Suatu waktu, kurasakan retakan kerangka ini dan seberkas sinar mentari menyilaukan mataku. Aku merasa seperti terlahir kembali. Ya, terlahir kembali seperti pertama kali saat ku membuka mata dan menjadi seekor ulat. Seberkas pertanyaan melintas di kepalaku. Apakah aku masih akan menjadi seekor ulat yang menjijikan? Apakah aku masih akan hidup dalam kehinaan dan kesengsaraan?
Kudengar suara lembut yang memanggilku. Ya, aku menyadari, itulah suara yang memanggilku ketika ku sedih. Suara yang menghibur dan menghangatkan hati yang terluka ini. Kau memberanikanku untuk melangkah keluar dari kerangka keras ini. Aku takut, namun kuikut saranmu dan melangkah. Tak bisa kupercaya bahkan dalam mimpiku sekalipun. Aku bukanlah seekor ulat hijau yang menjijikkan. Aku juga bukanlah sebuah kepompong yang diam mematung. Kini aku adalah seekor kupu – kupu yang indah. Benar, kupu – kupu yang membentangan sayapnya yang berwarna – warni, membuat dunia iri akan keindahannya.

Walaupun kini aku adalah seekor kupu – kupu, tak pernah kulupa bahwa dulu aku pernah menjadi seekor ulat bulu yang tidak dihargai, kepompong yang bahkan keberadaannya tidak dihiraukuan. Semua ini semata hanyalah karena Engkau yang mendampingiku dan mengubahkanku.
Selamanya tak kan pernah kulupa. Bapa dan sahabatku.


*I dedicated this to Father in Heaven for sure and to all my spiritual father who has done a great deal in my life. . .thx pa. . thx ko, ci. .without u all, my life will never be as beautiful and meaningful as this*


post by Rudy Bun

Minggu, 08 November 2009

Untuk para sahabat. Jauh maupun dekat. :)

Kenangan,
Itukah yang menyatukan kita dalam angan-angan? Pengalaman demi pengalaman yang sama-sama kita indera, lihat. Dengar, dan hirup diselingi tawa dan haru. Terima kasihku tak terhingga, kepada kenangan-kenangan itu. Yang masih menyatukan kita.

Betapa kepercayaan yang kau jaga, betapa pengertian yang kau bina, serta keberadaan yang tak pernah alpa, adalah harta yang tak punya harga.

Lalu bagaimana harus kulukiskan perasaan, ketika rasa rindu ini sudah sampai puncaknya, seakan meledak seiring waktu.

Dirimu, yang kupilih dan memilihku tuk saling mendampingi, tuk menjejak bumi beserta isinya, dengan nyata dan apa adanya. Adalah sesosok istimewa.

Tak ada janji-janji semu, seperti yang para kekasih berikan. Tak ada rasa malu atau tersipu, ketika pujian terlontarkan dan keburukan terungkapkan. Tak ada bujuk rayu ketika kita bercengkerama, yang ada hanyalah tawa dan tangis bersama. Karena yang kita alami, rasa dan berikan, adalah kebersamaan. Dalam perasaan.

Aku pun belajar. Ketika jarak sudah semakin jauh, betapa komunikasi ada kunci, pondasi yang menahan kuat pilar-pilar persahabatan ini, agar tidak rapuh lalu runtuh.

Apapun kata-kata yang kurangkaikan, seindah apapun, bukanlah manis dimulut semata. Tetapi akuilah bahwa inilah kesungguhan hati. Yang nyata. Dan semoga terasa, bahwa aku merindukan kalian semua. Sahabatku. Terima kasih, telah berbagi segala rasa yang terungkap kata pun jua yang tak terbaca oleh bahasa pikiran, dan masih mencintai pertalian ini. Semoga abadi. Miss u all. :-*

Post by Chrestella

Bertemu Kembali

Lagi-lagi aku akan bertemu dengan teman-teman lama sewaktu SMA. Kami juga mengadakan janji untuk bertemu di sebuah mal dekat kampusku. Jika bertemu, hal yang dilakukan tidak sekadar ngobrol-ngobrol biasa. Selain membangga-banggakan kampus dan kuliah, ada saja yang bertanya ”siapa pacarmu sekarang?”. Selanjutnya satu-satu dari mereka bercerita dan kembali membangga-banggakan pacar mereka. Lah, aku? Sedikit bikin iri. Namun, huhhh..., no woman no cry.... no money, I will cry… Hahaha..,dasar mata duitan!

Aku menunggu sendirian, duduk-duduk di depan supermarket di dalam mal. Kami sepakat untuk bertemu di sini. Orang-orang hilir mudik di depanku. Aku melongo. Kadang-kadang menatap kosong cewek-cewek yang lewat di depanku. Ada juga anak-anak bersama ayah ibunya yang mengundang perhatianku, mendambakan keluarga yang bahagia, punya anak, jalan-jalan bersama. Indahnya, pikirku. Wah, pikiranku sudah kemana-mana! Melamun! Aku sadarkan diriku dengan memutar-mutar kepalaku.

Tiba-tiba sosok gadis tinggi mengejutkanku. Teman lama di SMA, teman bercanda, teman sebangku selama dua tahun di SMA. Dia tersenyum-senyum dan tampak menertawakanku.

”Hai, Suwito! Apa kabar? Tambah kurus kau, Wi?” sapanya sambil menepuk keras bahuku.

Komentar yang paling aku benci. Dia bilang aku tambah kurus. Aku paling risih jika dikomentari tambah kurus. Kesannya, hidupku tak terurus dan tertekan selama tinggal di Jakarta sampai-sampai badan kurus.

Aku berdiri. ”Yeaahhh, daripada dirimu tambah jelek!” balasku sambil tersenyum balik. Wajahnya manyun.

”Kau nih,Wi, jahat! Aku bawa hadiah nih buat kau! Baik kan diriku?”

”Apa?”

”Taraaaaaaaaa...,”serunya seolah-olah ingin memberikan kejutan.

Wanita berambut panjang lurus terurai berdiri di belakangku. Cantik... Dia tersenyum. Senyumannya membuat jantungku seolah berhenti berdetak.

”Hai,To!” sapanya.

Kertas yang sudah lama aku gumpal dibuka kembali. Dia lembaran hidup yang pernah aku tulis di hatiku. Kini dia datang kembali. Kini kami bertemu lagi. Aku mungkin masih punya banyak harapan padanya. Namun, harapan itu sudah aku gumpal dan sudah aku singkirkan dari catatan hidupku. Mengapa sekarang seolah ingin aku buka kembali?

Belum sempat aku membalas sapaannya dan membalas senyum semanis senyumanya, seorang laki-laki berparas tegap dan tinggi menghampirinya. Dadanya lapang, dan wajahnya lumayan tampan, setidaknya lebih tampan sedikit daripada diriku. Lelaki itu menggandeng si kertas yang baru saja aku buka. Lalu, dibawanya pergi meninggalkanku sambil tersenyum sinis.

Temanku yang katanya memberikan hadiah untukku tertawa terbahak-bahak. Dia seolah menertawakanku dan merasa puas telah melakukan itu. Aku kesal dan sangat kesal.

”Monyeeeetttttttt!!!!!!!” aku berteriak sekuat tenaga meluapkan emosiku. Tiba-tiba aku berada di atas ranjang kamarku. Hah..., mimpi! Seperti penggalan sinetron saja! Untung saja, teman sekamarku tidak ada di ranjang sebelahku. Betapa malunya jika dia terbangun gara-gara mendengar teriakan monyet dari mulutku.

Gumpalah kertas, tetaplah gumpalan kertas, tak seindah kertas-kertas rapi yang putih bersih yang ada di tanganku. Kertas dalam lembaran hidupku jauh lebih indah daripada gumpalan yang sudah tak karuan walaupun masih kosong menanti entah siapa yang akan mengisinya. Yang pasti, harus diisi dengan indah, seindah mungkin dan tak ada kecewa di sana, tetapi nanti. Saat waktu dan Tuhan sudah menghendaki. Aku sabar saja menanti.

Post by: Suwito

Jumat, 06 November 2009

Perasaan Apakah Ini?

Aku berjalan lurus menelurusi pelataran lantai mall yang indah, meninggalkan mereka. Sudah diputuskan, kami bubar setelah seharian berkumpul bercanda tawa. Dia mau pulang, diantar teman. Aku sendirian dan pulang. Dia sudah berada di tangga berjalan, aku pandangi sosoknya, berharap dia membalas memandangiku. Namun, tak kunjung dia melakukan itu.

”Aku pulang!” putusku tiba-tiba lalu berjalan tanpa memandang mereka lagi.

Dia mungkin lebih layak diantar dengan mobil daripada dengan angkot atau Trans Jakarta bersamaku. Sudah berapa kali dia menolakku kembali. Aku tepiskan dia dari lubuk hatiku tetapi kini bergejolak kembali setelah bertemu dengannya. Langkahku berat tapi aku coba santai menelururi tapak-tapak mengkilap tehel lantai mall. Sesekali aku pandangi orang-orang yang lalu lalang di sekitarku, beberapa pasang kekasih membuat iri, para manusia elit yang sedang menikmati akhir pekannya, anak-anak muda stylist, dan sebagainya.

Seorang teman menceritakan betapa manisnya saat kami pacaran. Bermain kuku, memberi anak ayam makan, jalan-jalan yang tak jelas arahnya, dan lain sebagainya, membuatku tersipu malu. Walau itu cinta monyet katanya, aku tiba-tiba merindukan itu.

Melalui seorang teman yang lain, aku menemukan sesuatu yang membuatku tersadar akan perasaanku. Temanku sekaligus teman dekatnya bilang tak sedikit pun dia mencintaiku. Aku luluh dan aku memutuskan untuk tidak mengingatnya lagi, tidak mengharapkannya lagi, tidak mau melamunkannya lagi. Namun, hari ini aku bertemu dia, kawan! Pesonanya menghujam jantungku kata Tompi. Hati ini kembang kempis, apalagi teman-temanku mengolok-olok aku dan dia.

Aku sudah di luar. Agak ragu mau kemana, naik apa. Aku putuskan mampir mengisi perutku yang dari tadi siang kosong seperti jiwaku yang juga ikut-ikutan kosong. Aku telusuri jalan ibu kota megapolitan. Hari ini jalan langgeng, malam takbiran, besok lebaran. Percikan air mancur di taman mall tertiup angin terhempas ke wajahku.

Aku tetap berjalan, mencoba santai, tetapi pikiran dan perasaan tak pernah diam. Mereka bertabuh dengan hebatnya seolah sedang bersenandung cemoohan kepada diriku. Asap bus kota berhamburan di jalan, sementara mobil-mobil mewah menampilkan dirinya dengan memantulkan sinar-sinar lampu.
Aduh..., di dalam bus, saat makan malam sampai menuju pulang, perasaanku tak pernah diam. Alunan takbiran semakin bercampur dalam gemuruh hatiku. Jalan Apulkat 2 yang biasanya penuh mahasiswa dan karyawan-karyawan muda lalu lalang malam ini sepi. Sejumlah warung-warung makan tutup. Besok lebaran, pikirku sekali lagi mencoba mengalihkan berkecamuknya perasaan. Kantin vegetarian tempatku melepaskan hasrat kelaparanku tetap buka.

Selesai hasrat terpenuhi, aku pulang. Aku memilih jalan kaki daripada naik angkot. Langkahku semakin mantap. Sepi sekali, senyap... Angin kota semilir menyegarkan tubuh yang gerah ini. Sesekali aku membetulkan posisi tasku yang kurang nyaman. Aku makin merasa kesepian.

Aku terus berjalan ditemani iringan bedug dan kumandang kebesaran Tuhan. Saat melewati jalan protokol, anak-anak berhamburan bermain petasan kadang membuatku sedikit waspada. HP ku berbunyi. Sebuah sms darinya. Dia bilang dia sedang dalam perjalanan pulang dan mengucapkan terima kasih untuk hari ini. Aku membalasnya, membalas terima kasih. Hari ini apa yang aku lakukan? Aku menjadi manusia yang tak konsisten. Bukankah aku sudah putuskan untuk melupakan dia? Akh, dia tak sedikit pun merasakan aku, mengapa aku harus mengharapkannya! Bikin aku bodoh!

Aduh..., aku lagi-lagi mengeluh! Perasaanku bergenderang. Ntah perasaan apa. Saat dia ada bersamaku, aku mencoba menghindar dan menjauhinya. Saat aku akan pergi meninggalkannya, aku malah menyimpan banyak harapan dan kerinduan bahkan aku rela menghabiskan waktuku dengan lamunan tentangnya sepanjang jalan. Aduh..., perasaan apa ini? Benarkan perasaan ini yang dikatakan orang-orang bisa membuat manusia bodoh, hilang akal sehat dan buta? Jangan sampai aku bodoh hanya karena perasaan ini.

Duhai wanita, bantu aku! Enyahkan perasaan ini atau jelaskan perasaan yang aku rasa sehingga aku bisa benar-benar menikmati, memandangmu, dan menyusun seribu nyali untuk bilang ” I Love U”. Aduh, betapa gombalnya diriku! Ataukah benar aku sudah menjadi bodoh? Tolong sadarkan aku!

Post by Suwito