Jumat, 06 November 2009

Perasaan Apakah Ini?

Aku berjalan lurus menelurusi pelataran lantai mall yang indah, meninggalkan mereka. Sudah diputuskan, kami bubar setelah seharian berkumpul bercanda tawa. Dia mau pulang, diantar teman. Aku sendirian dan pulang. Dia sudah berada di tangga berjalan, aku pandangi sosoknya, berharap dia membalas memandangiku. Namun, tak kunjung dia melakukan itu.

”Aku pulang!” putusku tiba-tiba lalu berjalan tanpa memandang mereka lagi.

Dia mungkin lebih layak diantar dengan mobil daripada dengan angkot atau Trans Jakarta bersamaku. Sudah berapa kali dia menolakku kembali. Aku tepiskan dia dari lubuk hatiku tetapi kini bergejolak kembali setelah bertemu dengannya. Langkahku berat tapi aku coba santai menelururi tapak-tapak mengkilap tehel lantai mall. Sesekali aku pandangi orang-orang yang lalu lalang di sekitarku, beberapa pasang kekasih membuat iri, para manusia elit yang sedang menikmati akhir pekannya, anak-anak muda stylist, dan sebagainya.

Seorang teman menceritakan betapa manisnya saat kami pacaran. Bermain kuku, memberi anak ayam makan, jalan-jalan yang tak jelas arahnya, dan lain sebagainya, membuatku tersipu malu. Walau itu cinta monyet katanya, aku tiba-tiba merindukan itu.

Melalui seorang teman yang lain, aku menemukan sesuatu yang membuatku tersadar akan perasaanku. Temanku sekaligus teman dekatnya bilang tak sedikit pun dia mencintaiku. Aku luluh dan aku memutuskan untuk tidak mengingatnya lagi, tidak mengharapkannya lagi, tidak mau melamunkannya lagi. Namun, hari ini aku bertemu dia, kawan! Pesonanya menghujam jantungku kata Tompi. Hati ini kembang kempis, apalagi teman-temanku mengolok-olok aku dan dia.

Aku sudah di luar. Agak ragu mau kemana, naik apa. Aku putuskan mampir mengisi perutku yang dari tadi siang kosong seperti jiwaku yang juga ikut-ikutan kosong. Aku telusuri jalan ibu kota megapolitan. Hari ini jalan langgeng, malam takbiran, besok lebaran. Percikan air mancur di taman mall tertiup angin terhempas ke wajahku.

Aku tetap berjalan, mencoba santai, tetapi pikiran dan perasaan tak pernah diam. Mereka bertabuh dengan hebatnya seolah sedang bersenandung cemoohan kepada diriku. Asap bus kota berhamburan di jalan, sementara mobil-mobil mewah menampilkan dirinya dengan memantulkan sinar-sinar lampu.
Aduh..., di dalam bus, saat makan malam sampai menuju pulang, perasaanku tak pernah diam. Alunan takbiran semakin bercampur dalam gemuruh hatiku. Jalan Apulkat 2 yang biasanya penuh mahasiswa dan karyawan-karyawan muda lalu lalang malam ini sepi. Sejumlah warung-warung makan tutup. Besok lebaran, pikirku sekali lagi mencoba mengalihkan berkecamuknya perasaan. Kantin vegetarian tempatku melepaskan hasrat kelaparanku tetap buka.

Selesai hasrat terpenuhi, aku pulang. Aku memilih jalan kaki daripada naik angkot. Langkahku semakin mantap. Sepi sekali, senyap... Angin kota semilir menyegarkan tubuh yang gerah ini. Sesekali aku membetulkan posisi tasku yang kurang nyaman. Aku makin merasa kesepian.

Aku terus berjalan ditemani iringan bedug dan kumandang kebesaran Tuhan. Saat melewati jalan protokol, anak-anak berhamburan bermain petasan kadang membuatku sedikit waspada. HP ku berbunyi. Sebuah sms darinya. Dia bilang dia sedang dalam perjalanan pulang dan mengucapkan terima kasih untuk hari ini. Aku membalasnya, membalas terima kasih. Hari ini apa yang aku lakukan? Aku menjadi manusia yang tak konsisten. Bukankah aku sudah putuskan untuk melupakan dia? Akh, dia tak sedikit pun merasakan aku, mengapa aku harus mengharapkannya! Bikin aku bodoh!

Aduh..., aku lagi-lagi mengeluh! Perasaanku bergenderang. Ntah perasaan apa. Saat dia ada bersamaku, aku mencoba menghindar dan menjauhinya. Saat aku akan pergi meninggalkannya, aku malah menyimpan banyak harapan dan kerinduan bahkan aku rela menghabiskan waktuku dengan lamunan tentangnya sepanjang jalan. Aduh..., perasaan apa ini? Benarkan perasaan ini yang dikatakan orang-orang bisa membuat manusia bodoh, hilang akal sehat dan buta? Jangan sampai aku bodoh hanya karena perasaan ini.

Duhai wanita, bantu aku! Enyahkan perasaan ini atau jelaskan perasaan yang aku rasa sehingga aku bisa benar-benar menikmati, memandangmu, dan menyusun seribu nyali untuk bilang ” I Love U”. Aduh, betapa gombalnya diriku! Ataukah benar aku sudah menjadi bodoh? Tolong sadarkan aku!

Post by Suwito

Tidak ada komentar:

Posting Komentar